Kamis, 12 Oktober 2017

CHAPTER V : IMPLIKASI ETIS DARI TEKNOLOGI INFORMASI



CHAPTER V
IMPLIKASI ETIS DARI TEKNOLOGI INFORMASI
I. PENDAHULUAN

Sekarang terdapat perhatian yang lebih besar pada etika dalam penggunaan komputer dari pada sebelumnya. Masyarakat secara umum memberikan perhatian terutama karena kesadaran bahwa komputer dapat mengganggu hak individu atas privacy. Dalam dunia bisnis salah satu alasan utama perhatian tersebut adalah pembajakan perangkat lunak yang menggrogoti pendapatan penjualan perangkat lunak hingga milyaran dollar pertahun.ckomputer adalah peralatan social yang penuh daya, yang dapat membantu atau mengganggu masyarakat dalam banyak cara. Semua tergantung pada bagaimana cara penggunaannya. Dalam chapter kali ini kita akan membahas bagaimana dampak komputer dalam konteks etika,moral dan dan hukum. Guna mengetahui bagaimana komputer seharusnya diterapkan untuk kebaikan masyarakat. Karena etika mampu mempengaruhi para spesialis informasi dalam melaksanakan tugasnya.
II. MORAL ETIKA DAN HUKUM SERTA MENERAPKANNYA DALAM PRESPEKTIF

a. MORAL, Moral adalah tradisi kepercayaan tentang perilaku benar atau salah. Moral adalah institusi social dengan suatu sejarah dan daftar peraturan. Saat kita bertumbuh dan matang secara fisik dan mental, kita mempelajari peraturan-peraturan yang masyarakat harapkan untuk kita ikuti. Walau berbagai masyarakat tidak mengikuti satu set moral yang sama, terdapat keseragaman kuat yang mendasar. Misalnya, anak-anak jepang diajakarkan untuk mengucapkan “Terima Kasih” seperti halnya anak-anak Rusia dan Afrika Selatan.

b. ETIKA, kata ethics berasal dari bahasa yunani ethos, yang berarti karakter. Etika adalah satu set kepercayaan, standart, atau pemikiran yang mengisi suatu individu, krlompok, atau masyarakat. Semua individu bertanggung jawab pada masyarakat atas perilaku mereka. Tidak seperti moral etika dapat sangat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain.
c. HUKUM, hukum adalah peraturan perilaku formal yang dipaksakan oleh pihak otoritas beradaulat, seperti pemerintah pada rakyat dan warga negaranya. Hingga kini sangat sedikit hukum yang mengatur pengunaan komputer. Hal ini karena komputer merupakan penemuan baru dan umurnya hanya sekitar empat puluh tahun serta teknologinya berubah sangat cepat. Selama periode tersebut sistem hokum kesulitan mengikutinya. Akibat kurangnya peraturan hukum yang  mengatur tentang penggunaan komputer menyebabkan terjadinya kejahatan komputer, seperti terjadinya kasus dimana programmer membuat program yang tidak dapat menunjukan bahwa pengambilan saldo direkeningnya telah melampaui saldo rekening tersebut, sehingga dia dapat terus menuli cek meskipun saldonya telah habis, kasus penipuan ini berlangsung sampai akhirnya program tersebut rusak dan komputer tidak lagi dapat menjalankan program tersebut. Namun pelaku tersebut tidak dituntut melakukan kejahatan komputer karena peraturan hukunya belum ada.
d. CARA MENERAPKAN DALAM PRESPEKTIF, kita dapat melihat bahwa penggunaan komputer dalam bisnis diarahkan oleh nilai-nilai moral dan etika dari para manajer, spesialis informasi, dan pemakai, dan juga hukum yang berlaku. Hukum paling mudal diinterpretasikan karena berbentuk tertulis. Di pihak lain, etika tidak didefinisikan secara persis dan tidak disepakati oleh semua anggota masyarakat. Bidang yang sukar dari etika komputer inilah yang sedang memperoleh banyak perhatian.
 
III.         ETIKA DALAM BISNIS DI AS
Etika dalam bisnis di AS didasarkan pada tiga keyakinan dasar, yaitu :
    Etika Prostestan, Benjamin Franklin dapat dianggap sebagai pemberi justifikasi etis atas efisiensi dan laba dengan perkataan seperti “tidur lebih awal dan bangun lebih pagi membuat orang sehat, makmur, dan bijaksana”. Pandangan yang dikenal sebagai etika prostestan mendorong kerja keras untuk menghasilkan uang.
    Etika Persaingan Bebas,  etika persaingan bebas atau free enterprise ethic didasarkan pada teori para ahli ekonomi seperti Adam Smith, yang menganjurkan kapitalisme Laisser-Faire atau kebebasan berusaha berfungsi tanpa campur tangan pemerintah. Teori menganggap bahwa tindakan pengusahan untuk mengejar kepentingan sendiri dapat diterima. Dasar teori ini adalah keyakinan bahwa mementingkan diri sendiri tidak merugikan masyarakat. Masyarakat akan memperoleh lebih banyak manfaat dari keonomi berorientasi laba dari pada jika tujuan utama bisnis adalah kebakan sosial.
    Survival of the Fittest, dalam sistem persaingan bebas, tidak dapat dihindari bahwa sebagian besar perusahaan akan menjadi pemenang dan sebagian lagi akan kalah. Survival of the fittest (yang terkuat yang bertahan) dapat diterima asalkan perusahaan bersing secara wajar. Alasannya, persaingan berkerja sebagai proses seleksi untuk memangkas perusahaan-perusahaan yang memberi kontribusi paling sedikit pada kebaikan sosial.

IV.      PERLUNYA BUDAYA ETIKA
Budaya memperlihatkan bahwa manajemen bersungguh-sungguh mengenai kualitas dan bersedia menyediakan semua dukungan yang diperlukan untuk melaksanakan program-program berkaitan. Etika juga memerlukan dukungan dan pengaturan serupa.  Hubungan atara CEO dengan perusahaan merupakan dasar budaya etika. Jika perusahaan harus etis, maka manajemen puncak harus etis dalam semua tindakan dan kata-katanya. Manajemen puncak memimpin dengan memberi contoh perilaku ini adalah budaya etika. Manajemen puncak menerapkan budaya etika secara top-down, hal tersebut dapat dilihat dalam bagan dibawah ini :

Bagaimana budaya etika diterapkan ? tugas manajemen puncak adalah memastikan bahwa konsep etikanya menyebar di seluruh organisasi, melalui semua tingkatan dan menyentuh semua pegawai. Para eksekutif mencapai penerapan ini melalui suatu metode tiga lapis, yaitu dalam bentuk corporate credo, program-program etika, dank ode etik khusus perusahaan. Lapis-lapis tersebut dapat dilihat dalam bagan 1.1 yang menunjukan lapisan-lapisan tersebut dan hubungannya. Keterangan lebih lanjut dari bagan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Coorporate Credo adalah pernyataan ringkas mengenai nilai-nilai yang ditegakkan oleh perusahaan. Tujuan credo ini adalh untuk menginformasikan orang-orang dan organisasi-organisasi baik dalam maupun luar perusahaan mengenai nilai-nilai etis perusahaan. Contoh suatu credo perusahaan tersebut dapat dilihat dalam gambar dibawah ini :
2.      Program Etika adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai aktivitas yang dirancang untuk mengarahkan pegawai dalam melaksanakan corporate credo. Suatu contoh aktivitas adalah pertemuan organisasi yang dilaksanakan bagi pegawai baru. Selama pertemuan ini subjek etika mendapat cukup perhatian. Sebagian pertemuan menyampaikan pesan dari CEO yang memberitahukan pegawai baru bahwa mereka diharapkan menegakan keyakinan etis perusahaan.
3. Kode Etik Khusus Perusahaan, banyak perusahaan yang mernacnag kode etik perusahaan mereka sendiri. Kadang-kadang kode ini diadaptasi dari kode etik industry tertentu.
Menetapkan Credo, Program, dan Kode Etik Perusahaan dalam Prespektif, cara yang baik untuk menempatkan contoh-contoh budaya etika dalam prespektif adalah dengan menyamakannya dengan agama. Manajemen menggunakan hal-hal tersebut untuk mendorong budaya etika yang perlu diikuti perusahaan dan pegawainya dalam berhubungan satu sama lain dan dalam berhubungan dengan elemen-elemen di lingkungan perusahaan.
V.   ETIKA DAN JASA INFORMASI
  Apakah Etika Komputer ?, James H Moor professor di Darmouth mendifinisikan etika komputer sebagai analisis mengenai sifat dan dampak social teknologi komputer serta, formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan teknologi tersebut secara etis. Karena itu etika komputer terdiri dari dua aktivitas utama dan manajer yang bertanggung jawab atas aktivitas tersebut adalah CIO. CIO harus  (1) Waspada dan sadar bagaimana komputer mempengaruhi masyarakat, dan (2) karena itu harus berbuat sesuatu dengan memformulasikan kebijakan-kebijakan yang memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara tepat. Namun ada satu hal yang penting yaitu, bukan hanya CIO sendiri yang bertanggung jawab atas etika komputer. Para manajer punck lain juga bertanggung jawab. 
  Alasan Pentingnya Etika Komputer, ada beberapa alasan mengenai pentingnya etika komputer antara lain :
1. Kelenturan Logika, merupakan kemampuan memprogram komputer untuk melakukan apapun yang kita inginkan. Komputer bekerja tepat sesuai dengan yang diintruksikan oleh progammernya.
2. Faktor Transformasi, alasan kepedulian terhadap etika komputer ini didasarkan pada fakta bahwa komputer dapat mengubah secara drastis cara kita dalam melakukan sesuatu. Kita dapat melihat transformasi tugas yang sama pada semua jenis perusahaan. Contoh yang baik adalah electronic mail. E-mail tidak hanya memberikan cara bertelpon yang lain tetapi memberikan cara berkomunikasi yang baru.
3. Faktor Tak Kasat Mata, alasan ketiga minat masyarakat pada etika komputer adalah karena komputer dipandang sebagai suatu kotak hitam. Semua operasi internal komputer tersembuni dari penglihatan. Operasi internal yang tidak tampak ini memberi peluang pada :
a. Nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat, adalah perintah-perintah yang programmer kodekan menjadi program yang mungkin dapat atau tidak menghasilkan pemrosesan yang diinginkan oleh pemakai.  Selama penulisan program, programmer harus membuat serangkaian pertimbangan nilai seperti bagaimana program mencapai tujuannya.
b. Perhitungan rumit yang tidak terlihat, berbentuk program-program yang demikian rumit sehingga tidak dimengerti oleh pemakai. Program-program ini umumnya model matematika kompleks atau penerapan kecerdasan buatan. Manajer menggunakannya tanpa mengetahui sama sekali bagaimana program tersebut melaksanakan perhitungan.
c. Penyalahgunaan yang tidak terlihat, meliputi tindakan yang sengaja melanggar batasan hukum dan etika. Semua tindak kejahatan komputer termasuk kategori ini, demikian pula tindakan tidak etis seperti mengganggu hak individu atas privacy dan memata-matai.

VI.   HAK SOSIAL DAN KOMPUTER
Saat komputer pertama kali diterapkan dalam bisnis pada pertengahan 1950-an, manajemen memutuskan bahwa penggunaan komputer akan ditangani oleh para professional komputer, yaitu programmer, analisis sistem dan operator yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus komputer. Keputusan-keputusan mengenai bagaimana seharusnya komputer diterapkan masih dibuat oleh suatu segmen masyarakat yang relative kecil, yaitu para spesialis informasi dan pemakai yang terlihat dalam end user computing. Namun masyarakat memiliki hak-hak tertentu berkaitan dengan penggunaan komputer. Hak-hak ini dapat dipandang dari segi komputer atau dari segi informasi yang dihailkan komputer.
a.      Hak Atas Komputer, komputer merupakan peralatan yang penuh daya sehingga tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Ada beberapa hak yang dimiliki oleh masyarakat sebagai pengguna komputer, yaitu :
§  Hak Atas Akses Komputer, setiap orang tidak perlu memiliki sebuah komputer, namun setiap orang memiliki hak untuk mengakses komputer merupakan kunci untuk mencapai hak-hak tertentu lain, misalnya akses ke komputer berarti kunci mendapatkan pendidikan yang baik.
§  Hak Atas Keahlian Komputer, Komputer telah menciptakan pekerjaan lebih banyak dari pada yang dihilangkan. Tidak semua pekerjaan memerlukan komputer atau memerlukan pengetahuan komputer, tetapi banyak yang demikian.  Dalam mempersiapkan pelajar untuk bekerja di masyarakat modern, pendidik sering menganggap pengetahuan tentang komputer sebagai suatu kebutuhan.
§  Hak Atas Spesialis Komputer, mustahil setiap orang memperoleh semua pengetahuan dan keahlian komputer yang diperlukan. Oleh karenanya, kita harus memiliki hak akse ke para spesialis komputer, seperti kita memiliki akses kedokter, pengacara, dan tukang ledeng.
§  Hak Atas Pengambilan Keputusan Komputer, waktu masyarakat tidak banyak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai bagaimana komputer diterapkan, masyarakat memiliki hak tersebut. Hal ini layak jika komputer dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Hak-hak ini dicerminkan dalam UU komputer yang telah mengatur penggunaan komputer.
Dalam pandangan Johnson tanggung jawab social atas penggunaan komputer yang etis dapat dicapai dengan memenuhi hak-hak masyarakat atas komputer sebagai suatu peralatan.
b.  Hak Atas Informasi, Klasifikasi hak asasi manusia dalam area komputer yang paling luas dipublikasikan adalah PAPA yang dibuat oleh Ricardo O.Mason seorang professor di Southern Methodist University, menciptakan akronim PAPA untuk menggambarkan empat hak asasi masyarakat dalam hal informasi, hak tersebut adalah sebagai berikut :
§  Hak Atas Privacy, menurut Mason, para pengambil keputusan memberi nilai yang tinggi pada informasi sehingga mereka sering mengganggu privacy seseorang untuk mendapatkan informasi tersebut.
§  Hak Atas Akurasi, komputer dipercaya mampu mncapai tingkat akurasi yang tidak dapat dicapai oleh sistem non-komputer. potensi ini selalu ada tetapi tidak selalu tecapai. Sebagian sistem berbasis komputer mengandung kesalahan lebih banyak dari pada yang dapat ditolelir secara manual. Dalam banyak kasus kerusakan terbatas pada gangguan sementara, seperti pada saat anda harus memproses penagihan yang telah anda bayar. Dalam kasus lain, mungkin biayanya lebih besar. Kegagalan sistem berbasis komputer untuk mencapai tingkat akurasi yang diperlukan dapat menimbulkan biaya pada masyarakat yang diukur dalam uang, jasa, bahkan nyawa.
§  Hak Atas Kepemilikan, disini kita berbicara tetang hak milik intelektual, umumnya dalam bentuk program-program komputer. kita sering melihat para pemakai yang telah membeli hak untuk menggunakan perangkat lunak jadi menggandakannya secara illegal, kadang-kadang untuk dijual kembali. Namun sekarang hal kepemilikan tersebut dilindungi oleh UU tentang hak paten. Paten memberikan perlindungan yang sangat kuat dinegara-negara yang menegakannya karena perlindungan hak cipta menetapkan bahwa suatu tiruan (clone) tidak harus persis serupa dengan versi orisinilnya.
§  Hak Atas Akses, sebelum adanya database komputer, banyak informasi yang tersedia bgai masyarakat umum dalam bentuk dokumen tercetak atau microfilm diperpustakaan. Sekarang banyak dari informasi tersebut yang telah diubah menjadi database komersial yang menjadikan kurang diakses oleh masyarakat. Untuk memiliki akses informasi tersebut seorang harus memiliki perangkat lunak dan perangkat keraskomputer yang diperlukan, dan membayar biaya akses. Melihat fakta tersebut, maka menjadi ironis bahwa hak untuk akses merupakan masalah etis jam modern ini.

c. Kontrak Sosial Jasa Informasi, Mason yakin bahwa untuk memecahkan permasalahan etika komputer, jasa informasi harus masuk kedalam suatu kontrak sosial yang memastikan bahwa komputer akan digunakan untuk kebaikan social. Jasa informasi membuat kontrak tersebut dengan individu dan kelompok yang menggunakan atau yang dipengaruhi oleh output informasinya. Kontrak ini tidak tertulis tetapi tersirat dalam segala sesuatu yang dilakukan jasa informasi. Kontrak tersebut menyatakan bahwa :
§  Komputer tidak akan digunakan untuk sengaja mengganggu privacy  seseorang.
§  Setiap ukuran akan dibuat untuk memastikan akurasi pemrosesan komputer.
§  Hak milik intelektual akan dilindungi.
§  Komputer akan dapat diakses masyarakat sehingga anggota masyarakat terhindar dari ketidaktahuan informasi.
Singkatnya masyarakat jasa informasi harus bertanggung jawab atas kontrak sosial yang timbul dari sistem yang dirancang dan diterapkan.
VII.      KODE-KODE ETIK
Empat asosiasi professional komputer AS telah membuat kode-kode etik sebagai panduan bagi para anggotanya. Empat asosiasi tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Kode Perilaku Profesioanal ACM (Assosiation for Computing Machinery), ACM dibentuk tahun 1947 dan sekarang merupakan perkumpulan professional komputer tertua di AS. Kode perilaku professional ini terdiri dari lima cannon yaitu :
a. Seorang anggota ACM selalu bertindak dengan integritas.
b. Seorang anggota ACM harus berusaha meningkatkan kemampuannya serta kemampuan dan prestise profesi.
c. Seorang anggota ACM bertanggung jawab atas pekerjaannya.
d. Seorang anggota ACM bertindak dengan tanggung jawab professional.
e. Seorang anggota ACM harus menggunakan pengetahuan dan keahlian khususnya untuk kesejahteraan umat manusia.
Kode ACM ini mengakui tanggung jab anggota ACM pada diri sendiri, profesi, dan kesejahteraan umat manusia.
2. Kode Etik DPMA (Data Processing Management Association), DPMA didirikan pada tahun 1951 dan memiliki sekitar 35.000 anggota diseluruh dunia. Misinya adalah “Menjunjung manajemen informasi yang efektif, dan bertanggung jawab untuk kebaikan para anggotanya. Para pemberi kerja, dan masyarakat bisnis.” Kode etik DPMA terdiri dari Standards of Conduct (standart perilaku) yang menguraikan kewajiban manajer pengolahan data pada (1) manajemen perusahaan, (2) rekan anggota DPMA dan profesi, (3) masyarakat, dan (4) pemberi kerjanya.
3.      Kode Etik ICCP (Institute For Certification Of Computer Profesionals), ICCP didirikan pada tahun 1973 dengan maksud memberi sertifikasi pada para professional komputer. sertifikat ICCP meliputi Certified Computer Programmer (CCP) dan Certified in Data Processing (CDP). Untuk mendapatkan sertifikasi pelamar harus lulus ujian dan setuju untuk terikat pada kode etik ICCP. Kode etik ICCP menyatakan bahwa para anggotanya bertanggung jawab pada profesi, pemberi kerja dan kliennya.
4.      Kode Etik ITAA (Information Technology Assotiation of America), sementara keanggotaan ACM, DPMA, dan ICCP terdiri dari individu-individu, ITAA didirikan pada tahun 1961 sebagai suatu asosiasi bagi organisasi-organisasi yang memasarkan perangkat lunak dan jasa yang berkaitan dengan komputer. keanggotannya meliputi ratusan perusahaan seperti, Microsoft dan Lotus Development Coorporation. Kode ITAA terdiri dari prinsip-prinsip dasra yang mengatur penilaian, komunikasi, dan kualitas jasa dengan klien. Perusahaan dan pegawai diharapkan menegakan integritas professional industry komputer.
Model SRI, idealnya semua perkumpulan professional bergabung membuat satu kode etik. Kode etik tersebut harus membahas tanggung jawab setiap orang dalam profesi dalam hal etika penggunaan komputer. ada sejumlah kerangka kerja yang baik yang dapat menjadi dasar satu kode etik universal. Suatu kerangka kerja dasar yang baik yang mungkin merupakan tempat terbaik untuk memulai, adalah model yang dikembangkan oleh SRI Internasional bersamaan dengan aktivitas etniknya pada tahun 1970-an dan 1980-an. Model SRI unik karena tidak terbatas pada professional komputer yang beroperasi dalam lingkungan bisnis, tetapi luas jangkauannya. Hal tersebut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 1.1
Elemen-elemen Kunci dalam Etika Komputer Menurut Model SRI
SUBYEK
LINGKUNGAN
OBJEK
Konsumen/Masyarakat
Pemakai Komputer
Mahasiswa
Guru
Ilmuwan
Konsultan
Analis
Programmer
Operator Komputer
Wiraniaga Perusahaan
Komputer
Manajer
Akademik
Bisnis Perusahaan
Institusi-Institusi Perusahaan
Pemerintah
Independen

Kepemilikan Fisik
Hak Milik Intelektual
Aset Keuangan
Penggunaan Jasa
Tabel tersebut memperlihatkan bahwa model SRI merupakan sebuah daftar sederhana mengenai subjek, lingkungan , dan objek. Subjek meliputi berbagai macam orang yang menggunakan komputer atau yang terkena pengaruhnya. Subjek ini berada dala lingkungan yang beragamdan terlibat dalam masalah-masalah etika dasar atau objek. Kode etik apapun pasti menjangkau semua elemen-elemen ini.
Menempatkan Kode Etik dalan Prespektif, suatu kode etik hanya memberikan panduan umum yang dapat diadaptasi untuk beragam situasi. Bagaimana panduan tersebut diterapkan, sebagian besar tergantung pada kebijakan spesialis komputer atau pemakai. Seberapa jauh etika komputer tercapai dalam perusahaan sangat ditentukan oleh keyakinan etis para spesialis informasi dan efektivitas program etika yang dapat diterapkan CIO.
VIII.        ETIKA DAN SPESIALIS INFORMASI
Banyak peneliti yang telah mempelajari keyakinan etis para spesialis informasi, penelitian ini biasanya menggunakan scenario pertentangan etika, yang merupakan penggambaran tindakan-tindakan tertentu yang harus dievaluasi oleh subjek sebagai hale tis atau tidak etis.
    Penelitian SRI, Penelitian selama tahun 1970-an dan 1980-an memberikan sebagian besar data yang menggambarkan keyakinan etis dari para spesialis informasi yang bekerja. Penelitian pertama dibuat pada tahun 1977 disponsori oleh SRI Internasional dan terdiriri dari suatu lokakarya etika, ilmu dan teknologi komputer yang menggunakan scenario pertentangan etika. Sepuluh tahun kemudia scenario ini diulang untuk memasukan teknologi baru dalam scenario yang telah diperbarui.
1. Peserta Penelitian, peserta lokakarya tahun 1987 terdiri dari dua puluh tujuh orang dari industry, pemerintah dan academia yang telah menunjukan minat yang besar pada etika komputer.
2. Skenario Pertentangan Etika, lokakarya tahun 1987 menggunakan 54 skenario yang dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu, :
§  standart professional, kewajiban dan tanggung jawab.
§  Kepemilikan, pemberian atribut, pembajakan, penituan, hak cipta dan rahasia dagang.
§  Keyakinan atas informasi dan keleluasaan pribadi.
§  Praktek-praktek bisnis yang mencakup kontrak, perjanjia, dan pertentangan kepentingan.
§  Hubungan pemberi kerja dan karyawan.
3. Hasil Penelitian, jawaban peserta lokakarya digabungkan dengan diskusi, memberikan dasar bagi diskripsi tertulis mengenai prinsip-prinsip perilaku etis yang diharapkan.

IX. ETIKA DAN CIO
Perilaku CIO dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor tersebut antara lain :

Persepsi Etika CIO, seberapa baik etika CIO bertahan pada pengaruh-pengaruh ini, seorang peniliti mengumpulkan data dari 61 profesional SIM, mulai dari programmer hingga manajer SIM, data penelitian ini menggambarkan bagaimana etika mempengaruhi kinerja manajar, sesuai persepsi manajer dan bawahannya. Beberapa persepsi tersebut antara lain :
1.      Memanfaatkan kesempatan untuk bertindak tidak etis.
2.      Etika membuahkan suskses.
3.      Perusahaan dan manajer memiliki tanggung jawab social.
4.      Manajer mendukung keyakinan etika mereka dengan tindakan.

X.  PANDUAN ETIKA PRIBADI
Untuk membantu penentuan etika pribadi, ada beberapa penyataan yang membantu menentukan apakah tindakan kita etis. Daftar pertanyaan tersebut adalah :
1.  Apakah itu terhormat ?
2. Apakah itu jujur ?
3. Apakah itu menghindari kemungkinan pertentangan keyakinan ?
4. Apakah itu berada dalam area kemampuan anda ?
5. Apakah itu adil ?
6. Apakah itu dipertimbangkan ?
7. Apakah itu konservatif

Anda hanya perlu memjawab setiap pertanyaan tersebut dengan jawaban “YA” atau “TIDAK” setelah anda selesai menjawab semua pertanyaan tersebut maka anda secara pribadi akan mengetahui apakah tindakan yang anda lakukan tersebut etis atau tidak.


😉 SEKIAN DAN SEMOGA BERMANFAAT 😉

2 komentar: